Pengalaman di Tanah Suci Makkah (bagian I)

Sewaktu di tanah air sebelum berangkat ke tanah suci rupanya terlintas dipikiranku apakah aku  akan mendapatkan keajaiban sebagaimana cerita orang yang sebelumnya berangkat ke tanah suci.  Ya saya pingin dapat berkah ibadah haji dengan ditunjukkan keajaiban keajaiban yang mengubah hidup saya.  Begitu pesawat mendarat di Jeddah aku langsung berdo’a sesuai yang diajarkan dimanasik haji.   Saya melihat padang pasir yang luas sekali dan kering kerontang.  Beginikah orang orang arab jaman dahulu hidup.  Ya sekarang mereka bisa hidup enak karena dapat rejeki  minyak bumi yang melimpah.  Dan mereka bisa menyuling air laut.  Ya ini memang negeri yang diberkahi.  Setelah memakai dua potong kain  ihrom berwarna putih dan sholat sunnat perjalanan ke makkah diteruskan melalui bis.  Sebelum berangkat diatas bis ada yang memberikan tausiyah dengan bahasa Arab yang kurang kumengerti .  Barangkali kita diingatkan untuk ingat allah begitulah kira-kira.  Diawal perjalanan pemimpin KBIH masih sempat menngumandangkan labbaik allohumma labbaik.  Selanjutnya kantuk menyerang jamaah.   Langit semakin gelap karena bertambah malam.  Sesampai di penginapan jamaah langsung istirahat dan catering makan pertama di Saudi diberikan.  Ya memang rasanya berbeda dengan masakan yang biasa dimakan di tanah air.  Barangkali yang masak bukan orang Indonesia atau mereka   kurang menyukai garam.  Tak apalah namamanya juga dinegeri orang.  Sehabis sholat jamak takkhir maghrib dan isyak langsung ketiduran dikamar.  Begitu bangun ada jemaah yang kasih tahu kalau kita ditunggu di bawah untuk towaf dan sai.  Rupanya kami berenam sekamar ketiduran semua.  Kami langsung bergegas tapi ketinggalan jamaah lain.  Akhirnya kami berangkat berenam saja ke masjidil haram untuk towaf dan sai dengan naik bis yang telah disediakan.  Saya langsung memimpin istri saya untuk mengikuti buku manasik dari Depag.   Begitu memasuki masjid langsung berdo,a sesuai petunjuk.  Masjid yang begitu megahnya dengan lampu yang begitu terangnya. Ternyata saya baru memasuki halaman masjid yang berlantai pualam putih dan dingin.  Setelah kami menyimpan sandal ke tas tenteng langsung menuju ka’bah dan berdo’a.  Saya senang bisa melihatnya dengan mata sendiri.  Disinikah nabi Ibrahim menyeru kami untuk datang.  Ya saya datang memenuhi panggilan mu ya Allah melalui utusanmu. Saya langsung towaf tuju kali putaran sambil memegangi pundak istri saya di depan.    Pesan saudara ditanah air katanya formasi ini yang kuat agar tidak terlepas dari gandengan bilamana terjadi desak desakan.   Selama towaf  saya membaca buku doa yang diberikan depag.  Selama towaf aku melihat ada yang mengusap-ngusap kakbah.  Kata guru saya ditanah air towafnya akan batal jika menyentuh kakbah.  Saya memang ada keinginan untuk menyentuh kakbah tapi nanti setelah towaf. Begitu selesai towaf rasanya ingin mencium hajar aswad tapi saya tunda dulu keinginan itu karena masih ihrom khawatir pakaian ihrom saya terbuka selama berdesakan mencium khajar aswad.  Ya nanti setelah nggak pakai pakaian ihrom saya akan menciumnya meskipun ketua KBIH menganjurkan untuk isyarah saja karena sangat berbahaya berdesakan.  Saya memberikan isyarah saja lalu solat sunnat didekat maqom Ibrahim.  Selesai sholat langsung memasuki hijir ismail dan sholat dua rakaat bergantian dengan istri dan teman sekamar.  Dibawah pancuran emas dihijir ismail langsung berdoa dan menyebut keinginan keinginan  dan impian saya.  Selesai memasuki hijir ismail langsung mendekati kakbah disisi rukun yamani.  Kami berdoa setelah menyentuh rukun yamani.    Selesai towaf ingin sai tapi masih belum tahu gunung sofa tempat sai karena masjid begitu luasnya.  Kebetulan ada lelaki yang tinggi dan tampan berjalan dimasjid dan memberikan arah tempat sai setelah ditanya.  Saya langsung menuju gunung sofa.  Ternyata gunung sofa telah menjadi bagian dari masjidil haram.  Perjalanan sai mengingatkan ketika Hajar berlari-lari mencari air antara safa dan marwah pulang pergi sampai tuju kali dan berakhir di marwah.  Sewaktu sai  saya menyempatkan diri minum air zam zam yang tersedia dijalur sai.  Sesampai di marwah kemudian berdo’a dan mencukur sebagian rambut atau tahallul.  Sewaktu di marwah ini saya bertemu dengan rombongan lain dari satu KBIH.   Demikian umrah dari haji tamattu’ telah selesai pada jam 3 pagi waktu setempat.   Saya merasa belum adanya ke ajaiban waktu itu.  Yang jelas saya bersyukur bisa sholat dihijir ismail dan berdoa dibawah pancuran emas.  Sedangkan rombongan KBIH memang sengaja tidak masuk hijir ismail demi keamanan jamaah yang berusia lanjut.  Saya hanya bertanya dalam hati siapakah yang ganteng-ganteng tengah malam towaf.

Mencium Hajar Aswad

Sewaktu dibimbingan haji memang dikasih tau kalau mencium hajar aswad itu berbahaya.  Jadi keinginan mencium hajar aswad belem terlalu kuat.  Ketika habis sholat dhuha saya bertemu secara tidak sengaja dengan keponakan saya di masjidil haram dan dia cerita kalau sudah mencium hajar aswad.  Dia cerita bagaimana bisa dia menciumnya sedangkan disitu penuh sesak yang antri.  Memang penuh sesak tapi bisa dilakukan dengan cara nempel didinding kakbah sambil manjat pondasi batu dan bejalan sedikit demi sedikit kearah hajar Aswad.  Ya lain kali saya coba pikirku waktu itu.  Istri saya masih belum punya keinginan waktu itu.  Sewaktu selesai solat dhuhur saya survey dulu keadaanya apa memungkinkan atau tidak.  Sewaktu survey lihat-lihat keadaan ternyata saya bisa dekat hajar aswad dan bisa memegang dindingnya tiba-tiba tas saya yang berisi hp mau jatuh akhirnya saya batalkan niat tersebut.  Memang waktu itu ada yang menawari untuk bantu mengkawal sampai hajar aswad dengan upah 150 real tetapi saya ingin mencoba sendiri.  Kejadian tersebut saya ceritakan ke istri.  Istri saya juga bersemangat untuk mencium hajar aswad setelah dapat motivasi dari jamaah haji lain sewaktu sholat berjamaah.  Kemudian kami berdua memutuskan untuk mencium hajar aswad setelah sholat isyak.  Kami towaf terlebih dahulu lalu setelah towaf istri saya duluan naik kepondasi ka’bah antara hajar aswad dan rukun yamani  lalu saya dibelakangnya.  Perjalanannya pelan tapi pasti jalan menuju hajar aswad.  Begitu istri saya memegang dinding hajar aswad lalu turun menciumnya.  Begitu saya lihat istri saya mencium hajar aswad saya langsung memegang dinding hajar aswad tapi sudah disela orang lain dari arah yang lain.  Sambil memegangi didnding tempat hajar aswad ada yang menawarkan bantuan dan berkata Pak saya bantu masukin kepala ke hajar aswad dan begitu bapak selesai bantu saya ya? Ya ayo jawabku. Begitulah saya mencium hajar aswad batu pualam yang menghitam dan akhirnya jalan mundur sampai maqom Ibrahim.  Saya mencari istri saya tetapi belum kelihatan ada dimana karena tidak janjian ketemu dimana setelah mencium hajar aswad.  Biasanya sih sholat dimaqom Ibrahim selesai towaf tapi kok nggak ada.  Saya sempat kuatir kalau nggak ketemu.  Saya putuskan untuk sholat dulu di maqom Ibrahim lalu saya cari istri saya.  Sesudah sholat baru aku tengok kiri kanan depan belakang dan saya melihat wanita dengan warna baju yang lain dari yang lain yaitu seragam KBIH warna biru dokker yang menyolok sedang berdiri dipintu menunggu saya.  Alhamdulillah saya berhasil mencium hajar aswad yang mana orang tua saya sewaktu naik haji hanya isyarah saja ke hajar aswad.

Melakukan Thowaf Sunnah

Setiap hari kalau sholat di masjidil haram saya gemar sekali ibadah thowaf.  ya ibadah ini memang lebih mudah dari sholat tapi secara fisik lebih menguras tenaga.  saya menikmati bacaan do’a sewaktu towaf.  Kadang kadang kita harus berdesakan waktu itu jika lokasinya antara ka’bah dan maqom Ibrahim.  Teapi jika lokasinya diluar radius maqom Ibrahim rasanya lebih lenggang.  Ketika kita terhimpit diantara orang-orang yang towaf, tiba tiba secara otomatis pingin mengeraskan bacaan do’a jadi terasa khusu’.  Kadang terlintas di pikiran beginikah perjalanan kita menuju Tuhan kadang sambil berhimpit himpitan berputar mengikuti arus? hanya Allaoh yang tahu.  Setelah melewati Hijir Ismail terasa ada udara sejuk semeriwing terhembus.  Saya menganggab ini wajar saja sebab pada lokasi ini jalannya memang lancar tidak terganggu orang yang lalu lalang mencium hajar asawad atau orang yang sholat sunat dekat multazam atau maqom ibrahim.  Tapi kami bersyukur menghirup angin sejuk tersebut.  Saat waktu thowaf tiba-tiba saya melihat kaki orang yang thowaf jadi bercahaya seperti berpendar.  Apakah ini keajaiban atau kah mata saya yang berkunang-kunang.  Ketika saya lihat dengan sengaja berakomodasi ternyata cahayanya nggak nampak.  Pikirku ya itu karena mata saya yang berkunang-kunang karena melihat matahari.  Tapi ini terjadi pada satu kali thowaf dari sekian kali thowaf.

 

 

 

 

 

About these ads
This entry was posted in Agama.

9 comments on “Pengalaman di Tanah Suci Makkah (bagian I)

  1. Ajaran says:

    Sahih Bukhari, Volume 1, Book 5, Number 268
    Diceriterakan Qatada:
    Anas bin Malik berkata, “Sang Nabi sering mengunjungi semua istri-istrinya,
    pada siang dan malam hari dan keseluruhannya berjumlah 11 orang.” Saya bertanya
    kepada Anas, Apakah Nabi memiliki kekuatan untuk itu?” Anas menjawab, “Kita
    menyembutkan bahwa sang Nabi diberikan kekuatan setara dengan 30 (pria)
    .”
    Dan Sa’id berkata pada penguasa dari Qatada bahwa Anas mengatakan kepadanya
    9 istri saja (bukan sebelas).

  2. aluwi says:

    Saya percaya pada Alqur’an, Taurat, Injil dan Zabur. dan saya percaya Allah telah memberikan kelebihan pada para nabinya sesuai dengan masanya.

  3. rita says:

    Saya Jadi teringat ketika naik haji dua tahun lalu, ketika menatap Ka’bah, air mata beruarai saking haru dan bahagianya, terlebih lagi saya dapat menyentu dan mencium Ka’bah. Selama di Mekkah, banjir kebahagiaan tiada terkira. Saya jumpa dengan sanak famili yang banyak sudah menjadi WN Saudi Arabia. wah… pokoknya seperti menemukan syurga. Limpasan nikmat, kemudahan, kebahagian, rizki yang tiada terkira dapat saya raih di tanah suci, apalagi tanpa disengaja saya dapat Haji Akbar. Terima kasih ya Allah atas nikmat dan karuniamu. Tentunya Mas Aluwi juga mendapat pengalaman berharga yaa, takkan terlupa seumur hidup yaa.

    salam takzim
    ritasyafei@yahoo.com

  4. Aluwi says:

    Itu Baitullah yaitu Masjid yang pertama dibangun sejak Nabi Ibrahim. Masjid tertua kedua adalah Baitul Maqdis yang sekarang dikuasai Israel. Pingin sih nulis bagi bagi pengalaman agar ada tambahan persiapan fisik dan mental bagi yang mau berangkat haji.
    @rita
    emailnya silahkan dibaca dulu ya,

  5. Anwar Ashari says:

    SALAM.
    By writer of Hajji Book:
    40 Hari Di Tanah Suci
    Thank you

  6. meyy says:

    aku Cneng cZ aku bisa nambah wawasan

  7. meyy says:

    aQ cNeng Cz bIsa nambH wawasAn aKyu…..

  8. Reza Ardian says:

    waktu saya berangkat sendiri tanpa suami, alhamdulillah bisa mencium hajar aswad dan berdoa di multazam, shalat di hijir ismail juga. mungkin itu keajaiban saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s